Ada yang bergerak di dalam dadaku ini
Seperti ku kenal pernah kurasakan
Waktu aku jatuh cinta
Waktu hatiku tertarik
Rasanya pun begini
Jatuh cinta
Apakah ini sama seperti yang itu
Hatiku bergerak
Aku jatuh cinta
Dinding hatiku berlagu
Harmoni cinta menyentuh
Pipiku pun merona
Jatuh cinta
Harmoni cintaku kini datang
Nyanyikan suara hatiku
Berlagu penuh cinta
Senin, 15 Februari 2010
Selasa, 26 Januari 2010
Engkau Tak Lahir dari Rahim Serigala
Tidak seperti biasanya, Ibu selalu mematikan televisi setiap mata kami asyik menikmati kelebatan gambar dan suara yang merampas perhatian. Ruang tengah yang semula hidup mendadak padam. Kami pun saling memandang.
“Perut kalian tidak akan kenyng karena pidato itu,” wajah Ibu sedikit tegang.
“Iya, tapi ini pdato penting. Pk Menteri sedang menjelaskan kenapa harga BBM dan sembako naik,” aku mencoba menghidupkan televisi, tapi dengan cepat Ibu merampas remote control.
“Lebih baik kamu antre minyak di kelurahan!” Ibu menyodorkan uang dan kartu pengambil jatah. “Kita punya jatah tiga lima liter,” pandangan Ibu yang nanar menuntunku untuk keluar rumah sambil menenteng jerigen.
Hanya sekali itu Ibu melarang kami nonton televisi. Rupanya larangan itu pertama sekaligus terakhir. Sejak saat itu, kami tak tahu kemana televisi kami raib. Sokra, adikku, bilang, televisi 14 inci itu sedang “disekolahkan” di tempat Ibu Mantri Suntik.
“Ternyata, tidak hanya manusia yang bodoh. Televisi pun juga bisa tolol,” gurauku.
“Nanti kalau Ibu dapat pinjaman dari Bu Kadar pasti televisi itu kembali “pintar” dan kta bisa nonton sepak bola atau para pejabat yang hobinya melawak,” ujar Sokra dengan wajah beku.
“Untuk menjadikan televisi itu kembali “pintar” Ibu harus menebus berapa?”
“Saya dengar lima ratus ribu. Belum ditambah dengan bunganya.”
Aku geleng-geleng kepala mendengar jumlah yang cukup fantastis itu untuk ukuran kantung keluarga kami yang cekak. Dan, aku tak mampu membayangkan bagaimana usaha Ibu, yang tak kalah fantastisnya, untuk mendapatkan uang sebesar itu. Pinjam Bu Kadar? Bukankah utang Ibu sudah belasan juta?
“Aku dengar Ibu mau mengiris tanah halaman belakang rumah. Sudah ada yang menawar tiga ratus ribu per meter. Tapi, Ibu minta empat ratus ribu.”
Kepalaku terasa berat. Ucapan Sokra menjelma menjadi ledakan di tempurung kepalaku. Terbayang di benakku, hamparan tanah ratusan meter persegi itu teriris dan terlipat, seiring dengan pohon-pohon nangka, mangga, dan melinjo yang menjerit digorok gergaji mesin. Mereka tumbang secara slow motion. Berderak-derak. Lalu, sepasukan kuli bangunan menghajar tanah kami itu dengan pacul, membuat lubang panjang untuk fondasi. Truk-truk hilir-mudik menumpahkan batu, pasir, dan kapur: Deru molen yang mengaduk semen dan pasir serta kapur mengebor gendang telinga kami. Orang-orang kerja berhari-hari, dengan kulit berkilat-kilat penuh keringat, menata batu-bata demi batu-bata. Mendadak mataku terasa perih terganjal bayangan buruk itu.
“Harta kita tinggal tanah,” ujar Ibu setengah bergetar. Kulihat tatapan matanya tetap tenang, meskipun kurasakan Ibu berusaha keras menahan air matanya. Kulihat tangannya yang keriput tekun mengaduk adonan gandum untuk dibuat donat.
“Tapi, bukankah Ibu bisa minta tolong Mas Jaswadi, Mas Eko, Mbak Menik, atau Mas Jalu. Mereka tidak akan miskin hanya karena memberi bantuan Ibu. Duit lima puluh juta sampai tujuh puluh lima juta tak berarti apa-apa bagi mereka.”
“Minta uang mereka?” Ibu menggelengkan kepala. “Aku tidak akan membebani mereka. Aku merasa tak berhak menikmati kesuksesan mereka, meskipun aku ni ibunya. Tak pernah terpikir aku menagih jasa atas seluruh pengorbananku. Aku adalah ibu, bukan orang yang menyewakan rahim bagi anak-anaknya…”
“Iya, tapi mestinya mereka bisa memahami penderitaan Ibu.”
“Untuk apa? Apalagi aku merasa tidak sedang menderita.”
“Tapi, bukankah Ibu harus mengiris tanah?”
“Itu bukan penderitaan Cah Bagus. Bukan. Tapi, pengorbanan demi kebahagiaan kita bersama. Setidaknya bagi aku, yang merasa sangat bahagia melihat kamu dan adik-adikmu tumbuh mekar, berkembang dan mampu membedakan mana tangan kanan dan mana tangan kiri,” Ibu menghentikn tangannya mengaduk adonan gandum. “Kau paham, Cah Bagus?”
Aku terdiam. Tatapan Ibu menikam rongga dadaku.
“Aku berharap, hidupmu dan adik-adikmu selamat. Tidak menjadi orang culas yang sibuk menanam tebu di mulutnya, hanya untuk menutupi taring-taring yang berkiat-kilat setiap melihat urat leher orang lain. Atau, menjadi orang yang tega bertahta di atas tumpukan pangkatnya sambil tertawa cengengesan, sementara begitu banyak orang hanya mampu membayangkan rasa kenyang. Kamu dan adik-adikmu tidak lahir dari rahim serigala…” mata Ibu tampak sembab. Aku menjadi tidak tega untuk mencecar Ibu soal keputusannya mengiris tanah. Aku tidak ingin merusak kebahagiaan Ibu, yang menyusun bulatan demi bulatan gandum seperti menyusun impian-impiannya, sebelum akhirnya diceburkan ke dalam wajan penggorengan. Beberapa saat kemudian menguap bau sedap. Aku mencium bau donat-donat itu seperti mencium harum penderitaan Ibu.
Lewat bulatan-bulatan khas kampung itulah Ibu menyusun serpihan-serpihan impiannya menjadi sarang hangat bagi keluarga. Ibu tak peduli sarang kehangatan itu berpahatan lubang-lubang yang begitu gampang diterobos angin kencang. Bulatan-bulatan donat itu memang menghasilkan keuntungan yang tidak begitu besar. Cukup sekadar untuk makan dan biaya sekolah. Tapi, Ibu bukan jenis orang yang terdidik menjad rakus, misalnya tanpa rasa bersalah menipu pelanggan.
Pernah, Ibu tersinggung ketika salah seorang adiknya, Om Narto, menyuruhnya berhenti menjual donat-donat itu, meskipun Om Narto, yang menjadi anggota DPR itu sanggup memberikan uang “pensiun” kepada Ibu. Apa boleh buat, bulatan-bulatan donat telah menjadi dunia Ibu. Di situ berleleran tetesan kebahagiaan yang mampu mengusir kesepian pada usia senjanya. Ya, Ibu sangat kukuh menggengam dunia donat itu, sejak ayah meninggal lima tahun lalu karena serangan stroke. Sepeninggal Ayah –yang hanya mewariskan uang pensiunan seorang guru yang tidak terlalu besar- Ibu membajak waktu, bergumul dengan adonan gandum, didih minyak goring, kepulan asap, kocokan telur, simbah peluh, dan rasa lelah yang merampas tubuhnya. Ia menitipkan donat-donat itu di warung-warung kampung, dan akhirnya berkembang ke took-toko. Donat Ibu terkenal enak.
Lewat Kang Marto Bulus, makelar tanah yang mulutnya licin itu, karena setiap hari berkumur minyak pelumas, sebagian tanah kami jatuh ke tangan Pak Bei, peternak ayam potong yang punya puluhan karyawan. Pak Bei, yang bisa dibilang menggenggam seluruh jaringan perdagangan ayam potong di kota kami, tidak menawar harga yang disodorkan Ibu. Tanah seluas 500 meter persegi pun terlipat.
Sejak tanah itu dibangun, kami disiksa hangar-bingar mesin pengaduk semen atau hantaman palu, pacul dan martil yang berdebam-debam. Belum lagi ucapan kasar para pekerja bangunan yang selalu menggoda Arum, adikku yang tengah mekar di balik blus seragam sekolahnya. Ucapan-ucapa mereka tidak lagi gurauan, tapi sudah menjurus ke pelecehan. Darahku yang mendidih membimbing tanganku untuk menampar mulut para kuli kasar itu. Tapi, Ibu mredakan amarahku, “biarkan saja. Kamu dan adikmu tidak menjadi lebih gagah hanya karena mulut mereka kamu tampar.”
“Tapi, mereka akan semakin kurang ajar!”
“Nah, kalau sudah begitu, kamu berhak menampar harga diri mereka dengan ucapan yang halus.”
“Bagaimanpun aku ini laki-laki, Bu! Aku punya tangan dan kaki!”
Ibu memandangku sambil menggelengkan kepala. Tatapannya dalam. “Aku akan menemui Pak Bei untuk menegur para pekerja itu. Atau kalau perlu kita tuntut mereka,” ujarnya pelan, tandas, namun tetap dengan senyum setengah mengembang.
Senyum itu membuka peluang bagiku untuk minta uang. Keinginan itu sudah lama kutahan. Apalagi Ibu baru saja menerima pelunasan uang penjualan tanah dari Pak Bei. Telah lama aku memimpikan sepeda motor besar seperti yang sering diiklankan di teve, yang terus-menerus merongrong tabunganku.
“Ibu tinggal menambah tujuh juta,” ujarku sambi membantu Ibu mengaduk adonan gandum.
Untuk apa motor besar itu? Kamu ingin memboncengkan pacarmu seperti dlam film-film teve yang membosankan itu?”
“Bukan soal itu. Tapi, aku memang butuh kendaraan. Mosok aku pakai motor bebek yang sudah butut itu?”
“Tapi, itu tinggalan bapakmu. Kamu harus rajin merawatnya.”
“Iya…tapi…aku sangat ingin…”
“Kamu jangan mimpi. Uang hasil penjualan tanah kita sebagian besar sudah kukirim kepada kakakmu Jaswadi. Katanya, bisnis barang antiknya hancur, ditipu makelar dari luar negeri. Dia rugi ratusan juta…”
Kepalaku terasa bepusing-pusing dan pecah. Muncul wajah si benalu Jaswadi, yang membuat aku muntah. Kuhajar, kutonjok, kucabik dan kucakar wajah itu dalam erangan kemarahanku.
“Kamu tak perlu marah. Kalian semua anak Ibu. Kalau Jaswadi butuh bantuan dan aku mampu, kenapa tidak kubantu?” Ibu masih berucap dengan suara emasnya, yang kini membuat aku mulai bosan mendengarnya.
“Mestinya Mas Jas bisa menjual mobilnya yang jumlahnya sampai tiga. Atau menjual rumahnya di Pondok Indah, Cinere, atau di Matraman. Tidak malah…”
“Kalau kamu masih ngotot ingin motor besar itu, Ibu bisa memenuhi. Tanah di samping rumah kita masih cukup luas untuk diiris. Kamu mau?”
Dadaku mendadak sesak. Dengan perasaan berat kugelengkan kepala. Tangan Ibu meraih kepalaku mengelus-elus seperti mengusap kepala bayi yang sedang merengek di pelukannya. Kurasakan tetesan air mata hangat Ibu membasahi keningku.
“Aku hanya ingin Jaswadi selamat. Dan tetap mampu membedakan mana tangan kiri dan tangan kanannya…” bisik Ibu.
“Tapi, perhatian Ibu yang berlebihan justru tidak mendidik Mas Jas.”
“Tapi aku yakin, kangmas-mu sudah sangat terpukul dengan pemberian Ibu. Percayalah, dia masih punya harga diri, dan ingat jika aku harus membesarkan dan menyekolahkan kamu dan adik-adikmu…”
Sepulang dari kuliah aku dikejutkan oleh kedatangan seorang tamu yang duduk di beranda. Aku langsung menemui Ibu yang sedang membuatkan minuman untuk tamu itu. Katanya tamu itu dari Glodok.
“Jadi, tanah samping rumah tetap Ibu jual?”
Ibu mengangguk sambil terus mengaduk minuman.
“Untuk apa?”
“Kakakmu, Menik, mau buka usaha periklanan. Dia butuh modal besar. Katanya untuk membeli kamera, mesin editing, aahhh entah…”
Kepalaku kembali berputar-putar. Tak paham, kenapa kakak-kakakku mendadak menjelma menjadi serigala yang tega mengoyak dada induknya sendiri.
Bidang demi bdang tanah kami lepas, melayang dan terlipat di saku kakak-kakakku. Aku kembali tak paham, kenapa orang-orang yang merasa mampu hidup mandiri ternyata rapuh, dan harus membiayai citra kemandirian itu dengan menjadi benalu bagi Ibu, sang pohon tua.
“Harta kita tinggal tanah. Kalau kamu iri kepada kakak-kakakmu, aku mau mengiris sebagian tanah itu untuk kamu. Halaman depan rumah kita masih luas. Kita bisa menjualnya kapan saja,” suara Ibu terdengar terisak.
Aku terdiam. Berdiri bagai patung es yang terus meneteskan kesedihan, keharuan, tapi juga kejengkelan dan kemuakan kepada para benalu yang tidak tahu malu itu.
“Kalau ternyata nanti Mas Jalu juga ingin jatah tanah, apakah Ibu juga akan memenuhinya?”
Ibu mengangguk.
“Kalau nanti Mbak Tuning juga minta, Ibu akan memenuhinya?”
Ibu mengangguk, “Kalau toh kamu juga meminta, aku juga akan mengangguk.”
Ucapan Ibu kembali menikam rongga dadaku.
“Saya kira sudah saatnya Ibu istirahat, menikmati sisa hidup. Tak perlu memikirkan anak-anak Ibu yang selalu bikin repot,” kucoba menghalau rasa galau Ibu.
Tapi, seperti biasanya, Ibu hanya menggeleng,”Mungkin kamu menganggap aku ini lebih celaka dari induk ayam, yang punya batasan waktu untuk nyapih anak-anaknya. Namun, aku tak pernah merasa menjadi Ibu yang celaka. Aku sangat bahagia. Bahkan, ketika aku harus kembali mengiris tanah untuk kakakmu Eko, yang ingin buka usaha sejak ia dipecat dari pekerjaannya. Aku hanya ingin keluarga besar kita rukun dan hidup selamat. Dan mampu membedakan mana tangan kanan dan mana tangan kirinya.”
Ibu beranjak ke dapur, meninggalkan aku sendirian di ruang tengah. Beberapa saat kemudian bau sedap gorengan donat menguar menguasai ruangan. Aku mencium bau harum penderitaan Ibu. Entah sampai kapan Ibu bisa bertahan…
“Perut kalian tidak akan kenyng karena pidato itu,” wajah Ibu sedikit tegang.
“Iya, tapi ini pdato penting. Pk Menteri sedang menjelaskan kenapa harga BBM dan sembako naik,” aku mencoba menghidupkan televisi, tapi dengan cepat Ibu merampas remote control.
“Lebih baik kamu antre minyak di kelurahan!” Ibu menyodorkan uang dan kartu pengambil jatah. “Kita punya jatah tiga lima liter,” pandangan Ibu yang nanar menuntunku untuk keluar rumah sambil menenteng jerigen.
Hanya sekali itu Ibu melarang kami nonton televisi. Rupanya larangan itu pertama sekaligus terakhir. Sejak saat itu, kami tak tahu kemana televisi kami raib. Sokra, adikku, bilang, televisi 14 inci itu sedang “disekolahkan” di tempat Ibu Mantri Suntik.
“Ternyata, tidak hanya manusia yang bodoh. Televisi pun juga bisa tolol,” gurauku.
“Nanti kalau Ibu dapat pinjaman dari Bu Kadar pasti televisi itu kembali “pintar” dan kta bisa nonton sepak bola atau para pejabat yang hobinya melawak,” ujar Sokra dengan wajah beku.
“Untuk menjadikan televisi itu kembali “pintar” Ibu harus menebus berapa?”
“Saya dengar lima ratus ribu. Belum ditambah dengan bunganya.”
Aku geleng-geleng kepala mendengar jumlah yang cukup fantastis itu untuk ukuran kantung keluarga kami yang cekak. Dan, aku tak mampu membayangkan bagaimana usaha Ibu, yang tak kalah fantastisnya, untuk mendapatkan uang sebesar itu. Pinjam Bu Kadar? Bukankah utang Ibu sudah belasan juta?
“Aku dengar Ibu mau mengiris tanah halaman belakang rumah. Sudah ada yang menawar tiga ratus ribu per meter. Tapi, Ibu minta empat ratus ribu.”
Kepalaku terasa berat. Ucapan Sokra menjelma menjadi ledakan di tempurung kepalaku. Terbayang di benakku, hamparan tanah ratusan meter persegi itu teriris dan terlipat, seiring dengan pohon-pohon nangka, mangga, dan melinjo yang menjerit digorok gergaji mesin. Mereka tumbang secara slow motion. Berderak-derak. Lalu, sepasukan kuli bangunan menghajar tanah kami itu dengan pacul, membuat lubang panjang untuk fondasi. Truk-truk hilir-mudik menumpahkan batu, pasir, dan kapur: Deru molen yang mengaduk semen dan pasir serta kapur mengebor gendang telinga kami. Orang-orang kerja berhari-hari, dengan kulit berkilat-kilat penuh keringat, menata batu-bata demi batu-bata. Mendadak mataku terasa perih terganjal bayangan buruk itu.
“Harta kita tinggal tanah,” ujar Ibu setengah bergetar. Kulihat tatapan matanya tetap tenang, meskipun kurasakan Ibu berusaha keras menahan air matanya. Kulihat tangannya yang keriput tekun mengaduk adonan gandum untuk dibuat donat.
“Tapi, bukankah Ibu bisa minta tolong Mas Jaswadi, Mas Eko, Mbak Menik, atau Mas Jalu. Mereka tidak akan miskin hanya karena memberi bantuan Ibu. Duit lima puluh juta sampai tujuh puluh lima juta tak berarti apa-apa bagi mereka.”
“Minta uang mereka?” Ibu menggelengkan kepala. “Aku tidak akan membebani mereka. Aku merasa tak berhak menikmati kesuksesan mereka, meskipun aku ni ibunya. Tak pernah terpikir aku menagih jasa atas seluruh pengorbananku. Aku adalah ibu, bukan orang yang menyewakan rahim bagi anak-anaknya…”
“Iya, tapi mestinya mereka bisa memahami penderitaan Ibu.”
“Untuk apa? Apalagi aku merasa tidak sedang menderita.”
“Tapi, bukankah Ibu harus mengiris tanah?”
“Itu bukan penderitaan Cah Bagus. Bukan. Tapi, pengorbanan demi kebahagiaan kita bersama. Setidaknya bagi aku, yang merasa sangat bahagia melihat kamu dan adik-adikmu tumbuh mekar, berkembang dan mampu membedakan mana tangan kanan dan mana tangan kiri,” Ibu menghentikn tangannya mengaduk adonan gandum. “Kau paham, Cah Bagus?”
Aku terdiam. Tatapan Ibu menikam rongga dadaku.
“Aku berharap, hidupmu dan adik-adikmu selamat. Tidak menjadi orang culas yang sibuk menanam tebu di mulutnya, hanya untuk menutupi taring-taring yang berkiat-kilat setiap melihat urat leher orang lain. Atau, menjadi orang yang tega bertahta di atas tumpukan pangkatnya sambil tertawa cengengesan, sementara begitu banyak orang hanya mampu membayangkan rasa kenyang. Kamu dan adik-adikmu tidak lahir dari rahim serigala…” mata Ibu tampak sembab. Aku menjadi tidak tega untuk mencecar Ibu soal keputusannya mengiris tanah. Aku tidak ingin merusak kebahagiaan Ibu, yang menyusun bulatan demi bulatan gandum seperti menyusun impian-impiannya, sebelum akhirnya diceburkan ke dalam wajan penggorengan. Beberapa saat kemudian menguap bau sedap. Aku mencium bau donat-donat itu seperti mencium harum penderitaan Ibu.
Lewat bulatan-bulatan khas kampung itulah Ibu menyusun serpihan-serpihan impiannya menjadi sarang hangat bagi keluarga. Ibu tak peduli sarang kehangatan itu berpahatan lubang-lubang yang begitu gampang diterobos angin kencang. Bulatan-bulatan donat itu memang menghasilkan keuntungan yang tidak begitu besar. Cukup sekadar untuk makan dan biaya sekolah. Tapi, Ibu bukan jenis orang yang terdidik menjad rakus, misalnya tanpa rasa bersalah menipu pelanggan.
Pernah, Ibu tersinggung ketika salah seorang adiknya, Om Narto, menyuruhnya berhenti menjual donat-donat itu, meskipun Om Narto, yang menjadi anggota DPR itu sanggup memberikan uang “pensiun” kepada Ibu. Apa boleh buat, bulatan-bulatan donat telah menjadi dunia Ibu. Di situ berleleran tetesan kebahagiaan yang mampu mengusir kesepian pada usia senjanya. Ya, Ibu sangat kukuh menggengam dunia donat itu, sejak ayah meninggal lima tahun lalu karena serangan stroke. Sepeninggal Ayah –yang hanya mewariskan uang pensiunan seorang guru yang tidak terlalu besar- Ibu membajak waktu, bergumul dengan adonan gandum, didih minyak goring, kepulan asap, kocokan telur, simbah peluh, dan rasa lelah yang merampas tubuhnya. Ia menitipkan donat-donat itu di warung-warung kampung, dan akhirnya berkembang ke took-toko. Donat Ibu terkenal enak.
Lewat Kang Marto Bulus, makelar tanah yang mulutnya licin itu, karena setiap hari berkumur minyak pelumas, sebagian tanah kami jatuh ke tangan Pak Bei, peternak ayam potong yang punya puluhan karyawan. Pak Bei, yang bisa dibilang menggenggam seluruh jaringan perdagangan ayam potong di kota kami, tidak menawar harga yang disodorkan Ibu. Tanah seluas 500 meter persegi pun terlipat.
Sejak tanah itu dibangun, kami disiksa hangar-bingar mesin pengaduk semen atau hantaman palu, pacul dan martil yang berdebam-debam. Belum lagi ucapan kasar para pekerja bangunan yang selalu menggoda Arum, adikku yang tengah mekar di balik blus seragam sekolahnya. Ucapan-ucapa mereka tidak lagi gurauan, tapi sudah menjurus ke pelecehan. Darahku yang mendidih membimbing tanganku untuk menampar mulut para kuli kasar itu. Tapi, Ibu mredakan amarahku, “biarkan saja. Kamu dan adikmu tidak menjadi lebih gagah hanya karena mulut mereka kamu tampar.”
“Tapi, mereka akan semakin kurang ajar!”
“Nah, kalau sudah begitu, kamu berhak menampar harga diri mereka dengan ucapan yang halus.”
“Bagaimanpun aku ini laki-laki, Bu! Aku punya tangan dan kaki!”
Ibu memandangku sambil menggelengkan kepala. Tatapannya dalam. “Aku akan menemui Pak Bei untuk menegur para pekerja itu. Atau kalau perlu kita tuntut mereka,” ujarnya pelan, tandas, namun tetap dengan senyum setengah mengembang.
Senyum itu membuka peluang bagiku untuk minta uang. Keinginan itu sudah lama kutahan. Apalagi Ibu baru saja menerima pelunasan uang penjualan tanah dari Pak Bei. Telah lama aku memimpikan sepeda motor besar seperti yang sering diiklankan di teve, yang terus-menerus merongrong tabunganku.
“Ibu tinggal menambah tujuh juta,” ujarku sambi membantu Ibu mengaduk adonan gandum.
Untuk apa motor besar itu? Kamu ingin memboncengkan pacarmu seperti dlam film-film teve yang membosankan itu?”
“Bukan soal itu. Tapi, aku memang butuh kendaraan. Mosok aku pakai motor bebek yang sudah butut itu?”
“Tapi, itu tinggalan bapakmu. Kamu harus rajin merawatnya.”
“Iya…tapi…aku sangat ingin…”
“Kamu jangan mimpi. Uang hasil penjualan tanah kita sebagian besar sudah kukirim kepada kakakmu Jaswadi. Katanya, bisnis barang antiknya hancur, ditipu makelar dari luar negeri. Dia rugi ratusan juta…”
Kepalaku terasa bepusing-pusing dan pecah. Muncul wajah si benalu Jaswadi, yang membuat aku muntah. Kuhajar, kutonjok, kucabik dan kucakar wajah itu dalam erangan kemarahanku.
“Kamu tak perlu marah. Kalian semua anak Ibu. Kalau Jaswadi butuh bantuan dan aku mampu, kenapa tidak kubantu?” Ibu masih berucap dengan suara emasnya, yang kini membuat aku mulai bosan mendengarnya.
“Mestinya Mas Jas bisa menjual mobilnya yang jumlahnya sampai tiga. Atau menjual rumahnya di Pondok Indah, Cinere, atau di Matraman. Tidak malah…”
“Kalau kamu masih ngotot ingin motor besar itu, Ibu bisa memenuhi. Tanah di samping rumah kita masih cukup luas untuk diiris. Kamu mau?”
Dadaku mendadak sesak. Dengan perasaan berat kugelengkan kepala. Tangan Ibu meraih kepalaku mengelus-elus seperti mengusap kepala bayi yang sedang merengek di pelukannya. Kurasakan tetesan air mata hangat Ibu membasahi keningku.
“Aku hanya ingin Jaswadi selamat. Dan tetap mampu membedakan mana tangan kiri dan tangan kanannya…” bisik Ibu.
“Tapi, perhatian Ibu yang berlebihan justru tidak mendidik Mas Jas.”
“Tapi aku yakin, kangmas-mu sudah sangat terpukul dengan pemberian Ibu. Percayalah, dia masih punya harga diri, dan ingat jika aku harus membesarkan dan menyekolahkan kamu dan adik-adikmu…”
Sepulang dari kuliah aku dikejutkan oleh kedatangan seorang tamu yang duduk di beranda. Aku langsung menemui Ibu yang sedang membuatkan minuman untuk tamu itu. Katanya tamu itu dari Glodok.
“Jadi, tanah samping rumah tetap Ibu jual?”
Ibu mengangguk sambil terus mengaduk minuman.
“Untuk apa?”
“Kakakmu, Menik, mau buka usaha periklanan. Dia butuh modal besar. Katanya untuk membeli kamera, mesin editing, aahhh entah…”
Kepalaku kembali berputar-putar. Tak paham, kenapa kakak-kakakku mendadak menjelma menjadi serigala yang tega mengoyak dada induknya sendiri.
Bidang demi bdang tanah kami lepas, melayang dan terlipat di saku kakak-kakakku. Aku kembali tak paham, kenapa orang-orang yang merasa mampu hidup mandiri ternyata rapuh, dan harus membiayai citra kemandirian itu dengan menjadi benalu bagi Ibu, sang pohon tua.
“Harta kita tinggal tanah. Kalau kamu iri kepada kakak-kakakmu, aku mau mengiris sebagian tanah itu untuk kamu. Halaman depan rumah kita masih luas. Kita bisa menjualnya kapan saja,” suara Ibu terdengar terisak.
Aku terdiam. Berdiri bagai patung es yang terus meneteskan kesedihan, keharuan, tapi juga kejengkelan dan kemuakan kepada para benalu yang tidak tahu malu itu.
“Kalau ternyata nanti Mas Jalu juga ingin jatah tanah, apakah Ibu juga akan memenuhinya?”
Ibu mengangguk.
“Kalau nanti Mbak Tuning juga minta, Ibu akan memenuhinya?”
Ibu mengangguk, “Kalau toh kamu juga meminta, aku juga akan mengangguk.”
Ucapan Ibu kembali menikam rongga dadaku.
“Saya kira sudah saatnya Ibu istirahat, menikmati sisa hidup. Tak perlu memikirkan anak-anak Ibu yang selalu bikin repot,” kucoba menghalau rasa galau Ibu.
Tapi, seperti biasanya, Ibu hanya menggeleng,”Mungkin kamu menganggap aku ini lebih celaka dari induk ayam, yang punya batasan waktu untuk nyapih anak-anaknya. Namun, aku tak pernah merasa menjadi Ibu yang celaka. Aku sangat bahagia. Bahkan, ketika aku harus kembali mengiris tanah untuk kakakmu Eko, yang ingin buka usaha sejak ia dipecat dari pekerjaannya. Aku hanya ingin keluarga besar kita rukun dan hidup selamat. Dan mampu membedakan mana tangan kanan dan mana tangan kirinya.”
Ibu beranjak ke dapur, meninggalkan aku sendirian di ruang tengah. Beberapa saat kemudian bau sedap gorengan donat menguar menguasai ruangan. Aku mencium bau harum penderitaan Ibu. Entah sampai kapan Ibu bisa bertahan…
Ziarah Arwah-arwah Bayi
Perempuan itu lebih mencintai malam ketimbang siang. Malam memberinya keheningan, tempat ia menyusun rencana pertemuan dengan arwah-arwah bayinya. Demi arwah-arwah bayinya, ia ingin menjadi laba-laba yang setia membangun sarang dengan sulur-sulur lendirnya. Laba-laba itu tak pernah peduli pada angin yang mendadak melabrak dan memporak-porandakan sarangnya. Laba-laba itu akan menyusunnya kembali: seinci demi seinci sulur-sulur lendirnya dibentangkan di antara pojok tembok dengan langit-langit rumah, atau di antara ranting-ranting yang menuding ke langit.
Hidup ini, pikir perempuan itu, memang sarat rencana karena manusia telah dijebak impian. Dijebak? Ah, juga tidak, bantah perempuan itu. Lewat impian, permpuan itu merasa leluasa mengulur-ulur harapan. Dan, ia sangat percaya pada harapan, yang membuatnya mampu bertahan hidup dengan semangat cinta. Ketika cinta itu menggetarkan hatinya, yang terbayang adalah bayi-bayi kecil, puluhan jumlahnya, yang saling berebut puting susunya yang penuh dan padat. Air susunya akan menderas, sederas cintanya pada bayi-bayi mungil yang berjejal-jejal dalam benaknya. Bayi-bayi mungil itu memang tidak pernah dilahirkannya, namun ia measa mengasuh mereka.
Perempuan itu tidak pernah merasa lelah menyunggi impian, sambil menguntai manik-manik kekecewaan yang terkalung dan menjerat lehernya. Tetapi, anehnya, pikir perempuan itu, dirinya idak serta-merta binasa karena didera rasa kecewa. Kekecewaan dan rontoknya rencana telah diubahnya menjadi untaian kenangan dan pelajaran yang mampu memberi darah baginya.
Perempuan itu tidak tahu pasti berapa kali kekecewaan yang menjelma menjadi belati itu menikam-nikam lambungnya, menikam-nikam ulu hatinya. Ya, yang ia rasakan hanyalah rasa nyeri yang mengebor sukmanya. Jika rasa nyeri itu tiba, ia hanya berharap kepada malam untuk memberikan keheningan. Di kolam keheningan itu, ia membasuh luka-luka. Ia tak pernah paham, kenapa malam selalu memberinya aliran tenaga, yang kadang terasa gaib dan embikin seluruh luka jiwanya raib. Sejak saat itu, ia semakin percaya kepada kekuatan malam. Hanya kala malam tiba, ia akan menjumpai bayi-bayi yang tak pernah dilahirkannya.
Dalam doanya yang panjang, kadang-kadang, ia meminta Tuhan untuk mengubah seluruh isi hari dan seluruh detak waktu menjadi malam. Malam dan malam. Ya, malam yang sangat menggairahkan. Namun, ternyata Tuhan kelewat demokratis. Ia membagi hari menjadi siang dan malam. Perempuan itu pun menyerah, meskipun ia menggerutu kenapa harus ada siang hari yang selalu dikutuknya. Siang, pikir perempuan itu, hanya emberinya hiruk-pikuk kerja yang didikte detak jam, target, sedikit upah, dan selebihnya rasa ngilu. Perempuan itu tidak ingin menjadi budak waktu, yang berenang dalam kubangan keringatnya sendiri sambil mengejar benda apa saja yang terapung di sana.
Perempuan itu diam-diam menyesal, kenapa kesadaran itu beru muncul sekarang. Bertahun-tahun tak berdaya, tunduk digiring ke kamp kerja paksa, dengan rangsagan upah ala kadarnya. Bertahun-tahun ia harus memelihara kekuatannya, dan menguah saraf-sarafnya menjadi baja untuk melayani hasrat laki-laki yang begairah mengisap seluruh isi tubuhnya demi beberapa teguk kenikmatan sementara. Entah sudah berapa puluh liter air mani laki-laki tumoah di rahimnya. Entah sudah berapa kali ia harus menguras bakal janin agar tidak menjadi beban hidupnya. Barangkali, jika bayi-bayi itu bisa dilahirkannya, ia akan memiliki puluhan anak yang memenuhi rumah dan halaman. Tetapi, majikan yang menjebaknya menjadi perempuan penghibur, yang kini diistilahkan dengan gagah menjadi pekerja keras seks komersial, melarang dia untuk hamil.
Padahal, ia sangat ingin punya anak. Ia hanya menangis setiap pengguguran bayi itu dilakukan. Ia membayangkan janin-janin itu meronta dalam rahimnya, sebelum lebur menjadi cairan kimia. Ia juga tak bisa membayangan kemarahan janin-janin itu kepadanya. Mereka akan menganggap dirinya sebagai perempuan kejam yang setiap kata dan tindakannya menjadi pisau dapur yang menikam-nikam mereka. Perempuan itu juga tidak sanggup membayangkan jika janin-janin itu mengutuknya sebagai raksasa yang meramu nyawa bayi-bayi dan mereguknya demi kenikmatan. Ia ingin menjelaskan, dan berharap janin-janin itu mengerti, bahwa dirinya ingin melahirkan mereka untuk memasuki hiruk-pikuk dunia dan merengkuhnya dengan cintanya. Ia ingin menjelaskan semuanya. Namun, kesempatan itu tak kunjung tiba. Setiap waktu, ia disergap semacam perasaan bersalah, perasaan berdosa pada janin-janin yang amat dicintainya itu.
Setiap malam, ia khusuk melakukn ziarah rahasia bagi arwah-arwah bayinya yang dirampas hak hidupnya. Ia begitu gembira bertemu dengan mereka. Ia, dengan kasih seorang ibu, menggendong mereka, mengajak mereka bermain, memndikan mereka, dan menidurkan mereka.
Perempuan itu, dengan sisa-sisa ingatan di masa kanak-kanaknya, juga mendongengi arwah-arwah bayinya. Ia sangat bergembira memandang mata mereka berbinar-binar. Lusinan mata arwah-arwah bayi itu menjelma menjdi kristal-kristal cahaya yang membuat dadanya mekar. Di dada yang punuh itu, air susunya tak pernah habis diisap berpuluh-puluh mulut mungil arwah-arwah bayinya. Ia merasakan kehangatan menjalar ke sekujur tubuhnya yang sintal. Ia merasa bahagia ketika dua putingnya itu dilumat arwah-arwah bayinya. Nyanyian pun akan selalu meluncur dari mulutnya seiring derasnya air susunya.
Pada kedua pipi perempuan bermata sayu itu mengalir dua anak sungai setiap ia ditinggalkan arwah-arwah bayinya. Serat-serat kasih saying yang teranyam itu dirasakan mendadak putus. Ia memang sangat mencintai bakal anak-anaknya, yang dihardik agar tidak melihat dunia. Ia tidak perduli, meskipun barangkali janin bayi-bayi itu berasal dari bibit laki-laki yang tidak jelas juntrungannya. Barangkali di antara mereka ada yang berasal dari bibit seorang jahanam atau bedebah busuk. Namun, pikirnya, janin itu tetap janin. Bayi itu tetap bayi, dengan segala kesuciannya. Tak seorang pun berhak mengutuk bayi, meskipun ia lahir dari lorong kegelapan.
Ia sesungguhnya selalu berharap agar dunia yang kejam ini sedikit ibi, dengan memberinya kesempatan untuk menguji janin-janin itu menjalani hidup. Tak soal, jadi apa mereka kelak. Apakah mereka itu akan menjadi sejenis bunglon, kadal, harimau, singa, ular piton, atau menjadi malaikat-malaikat kecil, yang dengan lingkaran aura cemerlang turun dari surga mewartakan berita dari langit. Hmm…
Begitulah, setiap malam perempuan berwajah tirus dan berambut lurus itu selalu menanti kehadiran arwah-arwah bayinya. Ia selalu menunggu mereka di beranda, di antara rerimbunan perdu dan bunga-bunga. Ia membiarkan rambutnya yang tergerai panjang disisir angin pegunungan. Ia berharap arwah-arwah bayi itu turun dari langit, muncul di antara bintang-bintang, yang terasa hanya beberapa depa dari kepalanya. Kadang-kadang tengannya bersusaha meraih bintang-bintang itu. Ia berharap bisa menemukan bayi-bayinya yang mungkin bersembunyi di situ.
Ia juga sering bernyanyi, dengan suara sedikit parau, agar arwah-arwah bayinya keluar dari persembunyiannya. Ia ingin mendekap mereka. Memeluk mereka. Mencium pipi-pipi mereka. Merasakan kehangatan yang luar biasa. Ia berharap malam mau mengabulkan harapannya untuk segera membuka tabir rahasia, di mana anak-anaknya itu berada.
Bermimpi tentang bayi-bayi menjadi satu-satunya kemewahan bagi permapuan itu, yang tinggal di sebuah villa mungil di atas bukit. Villa itu pemberian seorang laki-laki kaya, yang jatuh cinta kepadanya. Laki-laki itulah yang membebaskan ia secara paksa dari seorang agen tenaga kerja wanita yang menjebaknya menjadi pekerja seks komersial. Perempuan itu menurut saja ketika laki-laki itu menjadikannya sebagai kekasihnya. Laki-laki itu setiap akhir pekn selalu mengunjungi dan mengajaknya menyelami samudra sampai ke dasarnya. Ia tidak keberatan, karena diam-diam ia memang suka.
Meskipun hubungan itu telah berjalan jauh dan mendalam, ia merasa tidak perlu tahu siapa laki-laki itu sesungguhnya. Ia hanya bisa menebak-nebak. Mungkin laki-laki itu adalah seorang saudagar yang sukses. Mungkin ia seorang birokrat. Mungkin seorang hakim, serdadu, politikus, makelar, seniman, atau tukang khotbah agama. Mungkin saja ia itu koruptor yang licik dan licin serta tidak pernah tersentuh hokum. Atau, ia malah preman kelas kakap yang punya impian spektakuler merampok semesta seperti Waska, tokoh ciptaan Arifin C Noer dalam lakon Umang-Umang yang pernah ia baca ketika menjadi mahasiswa. Ia tidak peduli.
Yang paling membahagiakannya hanyalah, di villa puncak bukit itu ia bisa memasuki malam dengan sempurna. Malam yang baginya selalu memberikan ketulusan yang menentramkan. Kadang-kadang ia berpikir, jangan-jangan ia lebih mencintai malam ketimbang laki-laki yang menghidupinya. Namun, ia tak peduli. Ia sekedar menjalani hidup ini. Ia ingin seperti air yang mengalir.
Mendadak perempuan itu dikejutkan oleh suara tangis bayi yang ramai. Malam pun seperti tergeragap dan terjaga, seiring desau angina pegunungan yang menyimpan jutaan jarum baja yang menikam-nikam tulangnya. Tangis bayi-bayi itu membikin senyumnya mengembang., membuat matanya berbinar. Ia kembali merasakan kehangatan menjalar ke sekujur tubuhnya. Perempuan itu bergegas bangkit mencari sumber suara. Ia menuju berbagai arah. Rerimbunan perdu dan bunga-bunga disibaknya. Tak ada siapa pun ditemuinya. Tangis bayi itu terasa makin menjauh dan menjauh. Ia kesal. Wajahnya sedikit terlipat. Ia menganggap mungkin suara itu tangis anak-anak jin. Namun, ketika ia hendak menuju beranda, tangis bayi-bayi itu kembali terdengar. Ia kembali bergegas mencari sumber suara. Mendadak tangis bayi-bayi itu berubah menjadi deru mesin mobil yang menjamah halaman villa.
Perempuan itu terkejut, dan hamper jatuh. Matanya silau diterpa sinar lampu mobil yang terang bagai siang.
Mobil itu masih hidup ketika dua orang laki-laki turun. Langkahnya tegap. Perempuan itu mundur beberapa langkah, ketika tahu yang datang bukan kekasihnya. Kecemasan mendadak menyergapnya. Dua laki-laki kekar itu merangsek dan mendekap perempuan itu. Perempuan itu meronta.
“Menyerahlah kamu perempuan sundal!” teriak salah satu dari mereka.
Perempuan it uterus meronta. Namun, dua laki-laki itu terlalu kuat untuk dilawan. Mereka kemudian menyeret perempuan tak berdaya itu ke mobil. Mobil menderu, meninggalkan halaman villa yang memang diterobos bias cahaya lampu dari beranda.
Perempuan itu duduk terpuruk di pojok ruangan remang yang penuh asap. Ruangan yang sudut-sudutnya sangat ia kenali. Ruangan yang secara fasih mengisahkan sepotong perjalanan hidupnya yang keras, terjal, penuh peluh dan keluh. Di ruangan yang tanpa kipas angin itu, beberapa laki-laki telah menunggunya.
“Layani mereka dengan baik!” ujar seorang laki-laki yang suaranya sangat dikenalnya. Suara berat yang penuh dengan arom alkohol. Suara yang setiap kalimatnya berbau ancaman, yang bertahun-tahun menindas jiwanya. Suara yang selalu menghadirkan bayangan mengerikan: kamar remang, laki-laki yang secara kasar membongkar pakaiannya, tubuh yang dirajam deru nafas, dan rasa nyeri yang merajamnya sampai sukma.
Begitulah hari-hari dilaluinya dengan perasaan nyeri di rongga dada. Nyeri di kemaluannya. Hari-hari itu selalu bermakna siang: kerja, kerja, dan kerja demi kepuasan para pembeli tubuhnya. Ia selalu gagal menjumpai malam yang tulus memberikan keheningan. Ia pun tak pernah lagi bisa menziarahi arwah-arwah bayinya. Germo itu telah merampas impian mewah miiknya. Perempuan itu tetap saja berjuang untuk membangun keheningan malam di tengah hiruk-pikik berahi laki-laki yang rakus melumat tubuhnya. Namun, keheningan malam gagal dating. Juga arwah bayi-bayinya yang sering menemuinya. Kini, ia dipaksa berenang-renang di genangan keringatnya. Ia dicengkeram rutinitas yang pelan-pelan membunuhnya.
Perempuan itu keras-keras meronta, menjerit dalam jiwanya. Ia ingin mengadukan segala hal-ihwal sungkawa kepada keheningan malam. Namun, kini keheningan malam itu raib entah kemana. Sekuat tenaga ia kembali bangkit dan membangun persembunyian di rongga batinnya, seperti laba-laba membangun sarang, seinci demi seinci membentangkan sulur dari lendirnya. Di sarang itu, ia berharap bisa bercengkerama dengan arwah-arwah bayinya.
Hidup ini, pikir perempuan itu, memang sarat rencana karena manusia telah dijebak impian. Dijebak? Ah, juga tidak, bantah perempuan itu. Lewat impian, permpuan itu merasa leluasa mengulur-ulur harapan. Dan, ia sangat percaya pada harapan, yang membuatnya mampu bertahan hidup dengan semangat cinta. Ketika cinta itu menggetarkan hatinya, yang terbayang adalah bayi-bayi kecil, puluhan jumlahnya, yang saling berebut puting susunya yang penuh dan padat. Air susunya akan menderas, sederas cintanya pada bayi-bayi mungil yang berjejal-jejal dalam benaknya. Bayi-bayi mungil itu memang tidak pernah dilahirkannya, namun ia measa mengasuh mereka.
Perempuan itu tidak pernah merasa lelah menyunggi impian, sambil menguntai manik-manik kekecewaan yang terkalung dan menjerat lehernya. Tetapi, anehnya, pikir perempuan itu, dirinya idak serta-merta binasa karena didera rasa kecewa. Kekecewaan dan rontoknya rencana telah diubahnya menjadi untaian kenangan dan pelajaran yang mampu memberi darah baginya.
Perempuan itu tidak tahu pasti berapa kali kekecewaan yang menjelma menjadi belati itu menikam-nikam lambungnya, menikam-nikam ulu hatinya. Ya, yang ia rasakan hanyalah rasa nyeri yang mengebor sukmanya. Jika rasa nyeri itu tiba, ia hanya berharap kepada malam untuk memberikan keheningan. Di kolam keheningan itu, ia membasuh luka-luka. Ia tak pernah paham, kenapa malam selalu memberinya aliran tenaga, yang kadang terasa gaib dan embikin seluruh luka jiwanya raib. Sejak saat itu, ia semakin percaya kepada kekuatan malam. Hanya kala malam tiba, ia akan menjumpai bayi-bayi yang tak pernah dilahirkannya.
Dalam doanya yang panjang, kadang-kadang, ia meminta Tuhan untuk mengubah seluruh isi hari dan seluruh detak waktu menjadi malam. Malam dan malam. Ya, malam yang sangat menggairahkan. Namun, ternyata Tuhan kelewat demokratis. Ia membagi hari menjadi siang dan malam. Perempuan itu pun menyerah, meskipun ia menggerutu kenapa harus ada siang hari yang selalu dikutuknya. Siang, pikir perempuan itu, hanya emberinya hiruk-pikuk kerja yang didikte detak jam, target, sedikit upah, dan selebihnya rasa ngilu. Perempuan itu tidak ingin menjadi budak waktu, yang berenang dalam kubangan keringatnya sendiri sambil mengejar benda apa saja yang terapung di sana.
Perempuan itu diam-diam menyesal, kenapa kesadaran itu beru muncul sekarang. Bertahun-tahun tak berdaya, tunduk digiring ke kamp kerja paksa, dengan rangsagan upah ala kadarnya. Bertahun-tahun ia harus memelihara kekuatannya, dan menguah saraf-sarafnya menjadi baja untuk melayani hasrat laki-laki yang begairah mengisap seluruh isi tubuhnya demi beberapa teguk kenikmatan sementara. Entah sudah berapa puluh liter air mani laki-laki tumoah di rahimnya. Entah sudah berapa kali ia harus menguras bakal janin agar tidak menjadi beban hidupnya. Barangkali, jika bayi-bayi itu bisa dilahirkannya, ia akan memiliki puluhan anak yang memenuhi rumah dan halaman. Tetapi, majikan yang menjebaknya menjadi perempuan penghibur, yang kini diistilahkan dengan gagah menjadi pekerja keras seks komersial, melarang dia untuk hamil.
Padahal, ia sangat ingin punya anak. Ia hanya menangis setiap pengguguran bayi itu dilakukan. Ia membayangkan janin-janin itu meronta dalam rahimnya, sebelum lebur menjadi cairan kimia. Ia juga tak bisa membayangan kemarahan janin-janin itu kepadanya. Mereka akan menganggap dirinya sebagai perempuan kejam yang setiap kata dan tindakannya menjadi pisau dapur yang menikam-nikam mereka. Perempuan itu juga tidak sanggup membayangkan jika janin-janin itu mengutuknya sebagai raksasa yang meramu nyawa bayi-bayi dan mereguknya demi kenikmatan. Ia ingin menjelaskan, dan berharap janin-janin itu mengerti, bahwa dirinya ingin melahirkan mereka untuk memasuki hiruk-pikuk dunia dan merengkuhnya dengan cintanya. Ia ingin menjelaskan semuanya. Namun, kesempatan itu tak kunjung tiba. Setiap waktu, ia disergap semacam perasaan bersalah, perasaan berdosa pada janin-janin yang amat dicintainya itu.
Setiap malam, ia khusuk melakukn ziarah rahasia bagi arwah-arwah bayinya yang dirampas hak hidupnya. Ia begitu gembira bertemu dengan mereka. Ia, dengan kasih seorang ibu, menggendong mereka, mengajak mereka bermain, memndikan mereka, dan menidurkan mereka.
Perempuan itu, dengan sisa-sisa ingatan di masa kanak-kanaknya, juga mendongengi arwah-arwah bayinya. Ia sangat bergembira memandang mata mereka berbinar-binar. Lusinan mata arwah-arwah bayi itu menjelma menjdi kristal-kristal cahaya yang membuat dadanya mekar. Di dada yang punuh itu, air susunya tak pernah habis diisap berpuluh-puluh mulut mungil arwah-arwah bayinya. Ia merasakan kehangatan menjalar ke sekujur tubuhnya yang sintal. Ia merasa bahagia ketika dua putingnya itu dilumat arwah-arwah bayinya. Nyanyian pun akan selalu meluncur dari mulutnya seiring derasnya air susunya.
Pada kedua pipi perempuan bermata sayu itu mengalir dua anak sungai setiap ia ditinggalkan arwah-arwah bayinya. Serat-serat kasih saying yang teranyam itu dirasakan mendadak putus. Ia memang sangat mencintai bakal anak-anaknya, yang dihardik agar tidak melihat dunia. Ia tidak perduli, meskipun barangkali janin bayi-bayi itu berasal dari bibit laki-laki yang tidak jelas juntrungannya. Barangkali di antara mereka ada yang berasal dari bibit seorang jahanam atau bedebah busuk. Namun, pikirnya, janin itu tetap janin. Bayi itu tetap bayi, dengan segala kesuciannya. Tak seorang pun berhak mengutuk bayi, meskipun ia lahir dari lorong kegelapan.
Ia sesungguhnya selalu berharap agar dunia yang kejam ini sedikit ibi, dengan memberinya kesempatan untuk menguji janin-janin itu menjalani hidup. Tak soal, jadi apa mereka kelak. Apakah mereka itu akan menjadi sejenis bunglon, kadal, harimau, singa, ular piton, atau menjadi malaikat-malaikat kecil, yang dengan lingkaran aura cemerlang turun dari surga mewartakan berita dari langit. Hmm…
Begitulah, setiap malam perempuan berwajah tirus dan berambut lurus itu selalu menanti kehadiran arwah-arwah bayinya. Ia selalu menunggu mereka di beranda, di antara rerimbunan perdu dan bunga-bunga. Ia membiarkan rambutnya yang tergerai panjang disisir angin pegunungan. Ia berharap arwah-arwah bayi itu turun dari langit, muncul di antara bintang-bintang, yang terasa hanya beberapa depa dari kepalanya. Kadang-kadang tengannya bersusaha meraih bintang-bintang itu. Ia berharap bisa menemukan bayi-bayinya yang mungkin bersembunyi di situ.
Ia juga sering bernyanyi, dengan suara sedikit parau, agar arwah-arwah bayinya keluar dari persembunyiannya. Ia ingin mendekap mereka. Memeluk mereka. Mencium pipi-pipi mereka. Merasakan kehangatan yang luar biasa. Ia berharap malam mau mengabulkan harapannya untuk segera membuka tabir rahasia, di mana anak-anaknya itu berada.
Bermimpi tentang bayi-bayi menjadi satu-satunya kemewahan bagi permapuan itu, yang tinggal di sebuah villa mungil di atas bukit. Villa itu pemberian seorang laki-laki kaya, yang jatuh cinta kepadanya. Laki-laki itulah yang membebaskan ia secara paksa dari seorang agen tenaga kerja wanita yang menjebaknya menjadi pekerja seks komersial. Perempuan itu menurut saja ketika laki-laki itu menjadikannya sebagai kekasihnya. Laki-laki itu setiap akhir pekn selalu mengunjungi dan mengajaknya menyelami samudra sampai ke dasarnya. Ia tidak keberatan, karena diam-diam ia memang suka.
Meskipun hubungan itu telah berjalan jauh dan mendalam, ia merasa tidak perlu tahu siapa laki-laki itu sesungguhnya. Ia hanya bisa menebak-nebak. Mungkin laki-laki itu adalah seorang saudagar yang sukses. Mungkin ia seorang birokrat. Mungkin seorang hakim, serdadu, politikus, makelar, seniman, atau tukang khotbah agama. Mungkin saja ia itu koruptor yang licik dan licin serta tidak pernah tersentuh hokum. Atau, ia malah preman kelas kakap yang punya impian spektakuler merampok semesta seperti Waska, tokoh ciptaan Arifin C Noer dalam lakon Umang-Umang yang pernah ia baca ketika menjadi mahasiswa. Ia tidak peduli.
Yang paling membahagiakannya hanyalah, di villa puncak bukit itu ia bisa memasuki malam dengan sempurna. Malam yang baginya selalu memberikan ketulusan yang menentramkan. Kadang-kadang ia berpikir, jangan-jangan ia lebih mencintai malam ketimbang laki-laki yang menghidupinya. Namun, ia tak peduli. Ia sekedar menjalani hidup ini. Ia ingin seperti air yang mengalir.
Mendadak perempuan itu dikejutkan oleh suara tangis bayi yang ramai. Malam pun seperti tergeragap dan terjaga, seiring desau angina pegunungan yang menyimpan jutaan jarum baja yang menikam-nikam tulangnya. Tangis bayi-bayi itu membikin senyumnya mengembang., membuat matanya berbinar. Ia kembali merasakan kehangatan menjalar ke sekujur tubuhnya. Perempuan itu bergegas bangkit mencari sumber suara. Ia menuju berbagai arah. Rerimbunan perdu dan bunga-bunga disibaknya. Tak ada siapa pun ditemuinya. Tangis bayi itu terasa makin menjauh dan menjauh. Ia kesal. Wajahnya sedikit terlipat. Ia menganggap mungkin suara itu tangis anak-anak jin. Namun, ketika ia hendak menuju beranda, tangis bayi-bayi itu kembali terdengar. Ia kembali bergegas mencari sumber suara. Mendadak tangis bayi-bayi itu berubah menjadi deru mesin mobil yang menjamah halaman villa.
Perempuan itu terkejut, dan hamper jatuh. Matanya silau diterpa sinar lampu mobil yang terang bagai siang.
Mobil itu masih hidup ketika dua orang laki-laki turun. Langkahnya tegap. Perempuan itu mundur beberapa langkah, ketika tahu yang datang bukan kekasihnya. Kecemasan mendadak menyergapnya. Dua laki-laki kekar itu merangsek dan mendekap perempuan itu. Perempuan itu meronta.
“Menyerahlah kamu perempuan sundal!” teriak salah satu dari mereka.
Perempuan it uterus meronta. Namun, dua laki-laki itu terlalu kuat untuk dilawan. Mereka kemudian menyeret perempuan tak berdaya itu ke mobil. Mobil menderu, meninggalkan halaman villa yang memang diterobos bias cahaya lampu dari beranda.
Perempuan itu duduk terpuruk di pojok ruangan remang yang penuh asap. Ruangan yang sudut-sudutnya sangat ia kenali. Ruangan yang secara fasih mengisahkan sepotong perjalanan hidupnya yang keras, terjal, penuh peluh dan keluh. Di ruangan yang tanpa kipas angin itu, beberapa laki-laki telah menunggunya.
“Layani mereka dengan baik!” ujar seorang laki-laki yang suaranya sangat dikenalnya. Suara berat yang penuh dengan arom alkohol. Suara yang setiap kalimatnya berbau ancaman, yang bertahun-tahun menindas jiwanya. Suara yang selalu menghadirkan bayangan mengerikan: kamar remang, laki-laki yang secara kasar membongkar pakaiannya, tubuh yang dirajam deru nafas, dan rasa nyeri yang merajamnya sampai sukma.
Begitulah hari-hari dilaluinya dengan perasaan nyeri di rongga dada. Nyeri di kemaluannya. Hari-hari itu selalu bermakna siang: kerja, kerja, dan kerja demi kepuasan para pembeli tubuhnya. Ia selalu gagal menjumpai malam yang tulus memberikan keheningan. Ia pun tak pernah lagi bisa menziarahi arwah-arwah bayinya. Germo itu telah merampas impian mewah miiknya. Perempuan itu tetap saja berjuang untuk membangun keheningan malam di tengah hiruk-pikik berahi laki-laki yang rakus melumat tubuhnya. Namun, keheningan malam gagal dating. Juga arwah bayi-bayinya yang sering menemuinya. Kini, ia dipaksa berenang-renang di genangan keringatnya. Ia dicengkeram rutinitas yang pelan-pelan membunuhnya.
Perempuan itu keras-keras meronta, menjerit dalam jiwanya. Ia ingin mengadukan segala hal-ihwal sungkawa kepada keheningan malam. Namun, kini keheningan malam itu raib entah kemana. Sekuat tenaga ia kembali bangkit dan membangun persembunyian di rongga batinnya, seperti laba-laba membangun sarang, seinci demi seinci membentangkan sulur dari lendirnya. Di sarang itu, ia berharap bisa bercengkerama dengan arwah-arwah bayinya.
Rabu, 13 Januari 2010
Hatiku Selembar Daun
Hatiku selembar daun
melayang jatuh di rumput
nanti dulu
biarkan sejenak aku berbaring di sini
ada yang masih ingin kupandang
yang selama ini senantiasa luput
sesaat adalah abadi
sebelum kau sapu tamanmu setiap pagi
kupu-kupu di sayap warna
suara burung di ranting cuaca
bulu-bulu cahaya
betapa parah, cinta kita remuk
berjalan di antara jerit-jerit bunga merekah
hatiku selembar daun
mengemis pada ranting
dahan patah belah dua
burung pipit di tangkaimu
bersenandung kehangatan,
kabut pun terlenyapkan..
hatiku selembar daun
aku tanpamu kini
akan jadi masa lalu
tanpa jiwa
mengikis selaksa perih,
melebur sudah bahkan
pada sejernih air..
wujudku tak tergambar
bayang di permukaan pun menghilang..
hatiku selembar daun
bila kau tak datang,
keadaan sudah kubaca
melayang jatuh di rumput
nanti dulu
biarkan sejenak aku berbaring di sini
ada yang masih ingin kupandang
yang selama ini senantiasa luput
sesaat adalah abadi
sebelum kau sapu tamanmu setiap pagi
kupu-kupu di sayap warna
suara burung di ranting cuaca
bulu-bulu cahaya
betapa parah, cinta kita remuk
berjalan di antara jerit-jerit bunga merekah
hatiku selembar daun
mengemis pada ranting
dahan patah belah dua
burung pipit di tangkaimu
bersenandung kehangatan,
kabut pun terlenyapkan..
hatiku selembar daun
aku tanpamu kini
akan jadi masa lalu
tanpa jiwa
mengikis selaksa perih,
melebur sudah bahkan
pada sejernih air..
wujudku tak tergambar
bayang di permukaan pun menghilang..
hatiku selembar daun
bila kau tak datang,
keadaan sudah kubaca
Hujan Jugakah di Hatimu?
ketika kutitipkan cinta padamu,
bersamanya turut gerimis dan halimun pudar
dibalur harap yang perlahan luntur
menjadi anak sungai, mengalir mengikutimu entah kemana..
ketika jemari merekah,
dan kupu-kupu pun terbang,
ku kalungkan seuntah bunga lily
di hangat matahari
yang menguapkan segala prasangka,
selain pasungan ketulusan
ketika kuberikan sekeping rindu padamu,
kuberi pula sebutir mimpi
yang di dalamnya aku lelap, pulas, abadi...
bersamamu...
sehelai sepinggang; seikat cinta,
seperca kenangan...
ketika kutitipkan cinta padamu,
hujan jugakah di hatimu?
bersamanya turut gerimis dan halimun pudar
dibalur harap yang perlahan luntur
menjadi anak sungai, mengalir mengikutimu entah kemana..
ketika jemari merekah,
dan kupu-kupu pun terbang,
ku kalungkan seuntah bunga lily
di hangat matahari
yang menguapkan segala prasangka,
selain pasungan ketulusan
ketika kuberikan sekeping rindu padamu,
kuberi pula sebutir mimpi
yang di dalamnya aku lelap, pulas, abadi...
bersamamu...
sehelai sepinggang; seikat cinta,
seperca kenangan...
ketika kutitipkan cinta padamu,
hujan jugakah di hatimu?
My Pray for Man I Love
Lord, You are present in the Blessed Sacrament.
You loves me and knows me.
I pray for a man who will be a part of my life,
a man who really loves You more than everything
a man who will put me in the second place of his heart
a man who lives not for himself but for You.
The most important is
I want a heart that really loves and thirsty of You
and have a desire to be like You, Jesus
and he must know for whom and for what he lives,
so his life isn't useless.
I pray for
a man who not only loves me but also respects me
a man who not only adores of but can warns me when I'm wrong
a man who loves me not because of my beauty but my heart
a man who can be my best friend in everytime and situation
a man who makes me feel like a woman when I beside him
I do not ask a perfect man but I ask for a man as he is,
so I can help him perfect in Your eyes,
a man who need my support for his strength
a man who need my prayer for his life
a man who need my smile to cover his sadness
a man who need my love so he feel being loved
a man who need me to make his life beautiful
And I also ask You, Jesus in the Blessed Sacrament:
Make me to be a woman that can make him proud
Give me a heart that really love You, so I could love him with Your love not love him with my love
Give me Your hands that always pray for him
Give me Your eyes, so I could see many good things in him and not the bad one
Give me Your mouth that filled with Your words of wisdom and encouragement
so I can support him every morning
And I want that finally we meet,
both of up can say 'How Great Thou Art' that You give of someone that can make my life perfect.
I know that You want us met at the right time
And You will make everything beautiful in Your time.
For You, who live and are King for ever and ever. Amen...
You loves me and knows me.
I pray for a man who will be a part of my life,
a man who really loves You more than everything
a man who will put me in the second place of his heart
a man who lives not for himself but for You.
The most important is
I want a heart that really loves and thirsty of You
and have a desire to be like You, Jesus
and he must know for whom and for what he lives,
so his life isn't useless.
I pray for
a man who not only loves me but also respects me
a man who not only adores of but can warns me when I'm wrong
a man who loves me not because of my beauty but my heart
a man who can be my best friend in everytime and situation
a man who makes me feel like a woman when I beside him
I do not ask a perfect man but I ask for a man as he is,
so I can help him perfect in Your eyes,
a man who need my support for his strength
a man who need my prayer for his life
a man who need my smile to cover his sadness
a man who need my love so he feel being loved
a man who need me to make his life beautiful
And I also ask You, Jesus in the Blessed Sacrament:
Make me to be a woman that can make him proud
Give me a heart that really love You, so I could love him with Your love not love him with my love
Give me Your hands that always pray for him
Give me Your eyes, so I could see many good things in him and not the bad one
Give me Your mouth that filled with Your words of wisdom and encouragement
so I can support him every morning
And I want that finally we meet,
both of up can say 'How Great Thou Art' that You give of someone that can make my life perfect.
I know that You want us met at the right time
And You will make everything beautiful in Your time.
For You, who live and are King for ever and ever. Amen...
Kristal Kesunyian
Kemana malaikat-malaikat itu pergi pada hari Sabtu, ketika kota dihujani abu dan serbuk-serbuk kimia yang menimbulkan asap radio-aktif serupa jamur raksasa? Pertanyaan itu menggigil sunyi dalam keperihan hati perempuan itu, yang tak pernah lepas menatap reruntuhan bangunan di kota kecil yang dipeluk sebatang pantai, lengkap dengan langit biru, ratusan camar, pasir putih, dan matahari merah tembaga. Rambut blonde perempuan itu berkibaran tertiup angin senja yang mengabarkan berita dari negeri jauh. Jeritan handphone di sakunya membuyarkan lamunannya. "Aku pasti pulang, Dad. Tapi, tunggu dulu. Pemerintah di Negeri Angin ini sedang melakukan pencarian besar-besaran mayat-mayat yang tertimbun di reruntuhan bangunan. Doakan aku segera bisa menemukan mayat Kevin," ujar Stefany, perempuan itu dengan gusar.
Stefany menatap laut lepas, seolah memandang wajah ayahnya yang kini digulung kecemasan di Melbourne, menunggu kepastian mayat menantunya, Kevin. Ada rasa bersalah yang mendesak dada Stefany ketika ia ingat ucapan ayahnya, "untuk apa kalian honeymoon di Pulau Paredesi? Bukankah Melbourne juga punya banyak pantai yang indah?"
"Honeymoon di rumah sendiri? Alangkah tidak romantis, Dad. Kami butuh suasana yang eksotis, Dad. Dan, di Pulau Paredesi kami bisa menemukan surga," ujar Stefany sambil memeluk Kevin.
"Dad, satu-satunya makhluk yang tidak dapat dibunuh adalah kenangan. Dan, perkawinan tidak indah tanpa kenangan," Kevin menimpali.
"Ah, omonganmu seperti penyair romantik di abad pertengahan... Berangkatlah kalian. Semoga benar-benar menemukan surga," ayah Stefany tertawa, membuat gelambir-gelambir di lehernya terguncang-guncang.
Dada Stefany terguncang ketika tiba-tiba ada orang menyebut namanya.
"Hey... Iwan. Bagaimana kamu bisa menemukan aku di sini?"
"Diam-diam aku selalu mengikuti kamu. Aku cuma cemas saja..."
"Bagaimana perkembangannya?"
"Puji Tuhan. Tim evakuasi mayat telah menemukan mayat Kevin."
Mata Stefany mendadak berbinar seiring dengan senyumnya yang mekar. Ia jabat erat tangan sahabat barunya yang telah dikenalnya selama seminggu itu, karena ia menginap di hotel tempat Iwan bekerja. Namun, Stefany segera melepaskan. Ia merasakan kecanggungan menyergap Iwan.
"Iwan, kalau malaikat-malaikat itu tidak libur di hari Sabtu, pasti ledakan bom itu takkan terjadi. Dan, Kevin serta ratusan orang lainnya tidak mati..." mata Stefany sembab. Pandangan matanya mengirimkan pukulan-pukulan keras di rongga dada Iwan.
"Barangkali benar, malaikat-malaikat itu sedang tidak ada di sini, Stefany. Atau, iblis bergerak lebih cepat meledakkan bom. Ah, aku tidak tahu, Stefany. Bisa jadi semua ini takdir.." ujar Iwan sambil memancal pedal gas. Mobil berjalan sangat cepat, meninggalkan reruntuhan bangunan, meninggalkan aroma mayat.
"Takdir? Ini politik para monster dan gangster, Iwan." Isak tangis Stefany meledak, "Kenapa dalam soal beginian malaikat-malaikat itu tidak campur tangan menyelamatkan mereka yang tidak berdosa. Ya, setidaknya Tuhan kan bisa mengutus mereka untuk..."
Mobil Iwan terus melesat. Ketika melewati tikungan tajam, mobil itu sedikit oleng. Tubuh Iwan dan Stefany terguncang.
"Wan, atas nama kepentingan politik, maut bisa dipesan kepada siapa saja," Stefany menarik nafas dalam-dalam ketika mobil kembali tenang.
Mobil menyibak kerumunan orang-orang dan para wartawan. Berbagai perasaan yang campur aduk mendorong Iwan dan Stefany bergegas memasuki rumah sakit, menyusuri lorong-lorong, berpapasan dengan ledakan-ledakan tangis, berpapasan dengan kecemasan, sumpah serapah, dan kutukan.
Mayat-mayat itu menghitam serupa arang dalam kantung-kantung plastik. Stefany menjerit histeris ketika melihat tubuh arang Kevin. Ia peluk mayat arang itu kuat-kuat dalam ledakan tangis yang menyayat. Iwan mencoba menenangkan Stefany. Tapi, kedukaan yang jauh lebih kuat dari kesadaran membuat Stefany makin meronta.
"Kalian telah membunuh cinta kami!" jerit Stefany. Orang-orang, mungkin keluarga korban, memandang Stefany. Empat satpam rumah sakit bergegas menguasai keadaan dengan memaksa Stefany meninggalkan ruangan yang penuh aroma mayat. Stefany memberikan perlawanan sekuatnya. Tapi, empat satpam bertubuh gagah itu dengan cepat berhasil menyeret Stefany.
Stefany masih mencium keringat Kevin yang melekat di jaket jeans Kevin yang terus dikenakannya. Keringat itu masih menyimpan gairah asmara. Ketika bulan tersepuh perak menebarkan candu asmara di Kota Paredesi, gejolak Kevin untuk mengarungi setiap jengkal tubuh Stefany tengah menggelegak. Dirasuki serupa birahi remaja, Kevin bergairah menebarkan jala, meringkus Stefany dalam dekapan kehangatan. Udara sejuk pulau itu membimbing mereka menjadi remaja yang belajar mengenali lautan asmara. Sentuhan Kevin adalah sentuhan laki-laki pertama Stefany.
Sore itu, ketika mereka telah sampai di Pulau Paredesi setelah berikrar sehidup semati di depan altar, Stefany dan Kevin terlibat perbincangan yang hangat.
Stefany menatap mata Kevin yang tajam berkilau. Obrolan yang mengalir itu mampu membuka simpul-simpul saraf, membangkitkan berbagai kelenjar dalam tubuhnya. Kini kanal-kanal kelenjarnya itu begitu terbuka menciptakan arus aneh, yang ia sendiri tak mampu memberi nama, namun mampu merasakan kenikmatan yang jauh lebih dahsyat dari persetubuhan.
Kelenjar-kelenjar gairah itu bangkit membadai ketika mereka mereguk pelayaran asmara di suite yang mereka sewa. Mereka bergairah menciptakan malam-malam pengantin yang tak mungkin menguap dari tabung ingatan. Setelah pelayaran ke dasar samudra itu, yang ia rasakan hanyalah matanya basah. Basah karena haru bahagia merasuki relung hatinya.
"Kamu bahagia Stefany?"
"Bahagia. Sangat bahagia, sayang.."
"Cepatlah bangun Kevin. Toko-toko cendera mata keburu diburu pembeli. Bukanlah kamu akan mengalungkan manik-manik permata di leherku?"
"Berangkatlah dulu. Nanti aku menyusul. Aku masih ngantuk, dear."
Stefany bergegas meninggalkan kamar hotel setelah meninggalkan kecupan di pipi Kevin. Pagi itu ia akan memulai petualangan baru. Ia sama sekali tak menyangka, hotel itu kemudian dihajar bom. Tubuh Kevin menjelma menjadi bayangan.
Sambil meremas kalung manik-manik permata, Stefany menatap lekat-lekat tubuh suaminya serupa arang dalam kantung plastik. Perempuan bertubuh semampai itu, dengan sepasang mata biru yang digelayuti impian-impian pengantin, tak mampu lagi menangis. Seluruh kepedihannya telah mengkristal menjadi kesunyian.
"Kalian bisa membunuh Kevin, tapi tak akan bisa membunuh kenangan kami, " Stefany membatin dalam deru suara pesawat terbang yang membawa mayat Kevin ke Melbourne. Ia melihat puluhan malaikat menjaga mayat suaminya. Mereka menebarkan senyum kepadanya. Stefany ingin bertanya, kemana kalian pergi pada hari Sabtu, ketika kota dihujani abu, asap kimia, debu radio aktif yang mencabut ratusan nyawa? Kemana kalian? Tapi, kerongkongannya terasa tercekat, pita suaranya terasa terlipat. Stefany hanya memandang malaikat-malaikat dalam pesawat itu, lekat-lekat.
Stefany menatap laut lepas, seolah memandang wajah ayahnya yang kini digulung kecemasan di Melbourne, menunggu kepastian mayat menantunya, Kevin. Ada rasa bersalah yang mendesak dada Stefany ketika ia ingat ucapan ayahnya, "untuk apa kalian honeymoon di Pulau Paredesi? Bukankah Melbourne juga punya banyak pantai yang indah?"
"Honeymoon di rumah sendiri? Alangkah tidak romantis, Dad. Kami butuh suasana yang eksotis, Dad. Dan, di Pulau Paredesi kami bisa menemukan surga," ujar Stefany sambil memeluk Kevin.
"Dad, satu-satunya makhluk yang tidak dapat dibunuh adalah kenangan. Dan, perkawinan tidak indah tanpa kenangan," Kevin menimpali.
"Ah, omonganmu seperti penyair romantik di abad pertengahan... Berangkatlah kalian. Semoga benar-benar menemukan surga," ayah Stefany tertawa, membuat gelambir-gelambir di lehernya terguncang-guncang.
Dada Stefany terguncang ketika tiba-tiba ada orang menyebut namanya.
"Hey... Iwan. Bagaimana kamu bisa menemukan aku di sini?"
"Diam-diam aku selalu mengikuti kamu. Aku cuma cemas saja..."
"Bagaimana perkembangannya?"
"Puji Tuhan. Tim evakuasi mayat telah menemukan mayat Kevin."
Mata Stefany mendadak berbinar seiring dengan senyumnya yang mekar. Ia jabat erat tangan sahabat barunya yang telah dikenalnya selama seminggu itu, karena ia menginap di hotel tempat Iwan bekerja. Namun, Stefany segera melepaskan. Ia merasakan kecanggungan menyergap Iwan.
"Iwan, kalau malaikat-malaikat itu tidak libur di hari Sabtu, pasti ledakan bom itu takkan terjadi. Dan, Kevin serta ratusan orang lainnya tidak mati..." mata Stefany sembab. Pandangan matanya mengirimkan pukulan-pukulan keras di rongga dada Iwan.
"Barangkali benar, malaikat-malaikat itu sedang tidak ada di sini, Stefany. Atau, iblis bergerak lebih cepat meledakkan bom. Ah, aku tidak tahu, Stefany. Bisa jadi semua ini takdir.." ujar Iwan sambil memancal pedal gas. Mobil berjalan sangat cepat, meninggalkan reruntuhan bangunan, meninggalkan aroma mayat.
"Takdir? Ini politik para monster dan gangster, Iwan." Isak tangis Stefany meledak, "Kenapa dalam soal beginian malaikat-malaikat itu tidak campur tangan menyelamatkan mereka yang tidak berdosa. Ya, setidaknya Tuhan kan bisa mengutus mereka untuk..."
Mobil Iwan terus melesat. Ketika melewati tikungan tajam, mobil itu sedikit oleng. Tubuh Iwan dan Stefany terguncang.
"Wan, atas nama kepentingan politik, maut bisa dipesan kepada siapa saja," Stefany menarik nafas dalam-dalam ketika mobil kembali tenang.
Mobil menyibak kerumunan orang-orang dan para wartawan. Berbagai perasaan yang campur aduk mendorong Iwan dan Stefany bergegas memasuki rumah sakit, menyusuri lorong-lorong, berpapasan dengan ledakan-ledakan tangis, berpapasan dengan kecemasan, sumpah serapah, dan kutukan.
Mayat-mayat itu menghitam serupa arang dalam kantung-kantung plastik. Stefany menjerit histeris ketika melihat tubuh arang Kevin. Ia peluk mayat arang itu kuat-kuat dalam ledakan tangis yang menyayat. Iwan mencoba menenangkan Stefany. Tapi, kedukaan yang jauh lebih kuat dari kesadaran membuat Stefany makin meronta.
"Kalian telah membunuh cinta kami!" jerit Stefany. Orang-orang, mungkin keluarga korban, memandang Stefany. Empat satpam rumah sakit bergegas menguasai keadaan dengan memaksa Stefany meninggalkan ruangan yang penuh aroma mayat. Stefany memberikan perlawanan sekuatnya. Tapi, empat satpam bertubuh gagah itu dengan cepat berhasil menyeret Stefany.
Stefany masih mencium keringat Kevin yang melekat di jaket jeans Kevin yang terus dikenakannya. Keringat itu masih menyimpan gairah asmara. Ketika bulan tersepuh perak menebarkan candu asmara di Kota Paredesi, gejolak Kevin untuk mengarungi setiap jengkal tubuh Stefany tengah menggelegak. Dirasuki serupa birahi remaja, Kevin bergairah menebarkan jala, meringkus Stefany dalam dekapan kehangatan. Udara sejuk pulau itu membimbing mereka menjadi remaja yang belajar mengenali lautan asmara. Sentuhan Kevin adalah sentuhan laki-laki pertama Stefany.
Sore itu, ketika mereka telah sampai di Pulau Paredesi setelah berikrar sehidup semati di depan altar, Stefany dan Kevin terlibat perbincangan yang hangat.
Stefany menatap mata Kevin yang tajam berkilau. Obrolan yang mengalir itu mampu membuka simpul-simpul saraf, membangkitkan berbagai kelenjar dalam tubuhnya. Kini kanal-kanal kelenjarnya itu begitu terbuka menciptakan arus aneh, yang ia sendiri tak mampu memberi nama, namun mampu merasakan kenikmatan yang jauh lebih dahsyat dari persetubuhan.
Kelenjar-kelenjar gairah itu bangkit membadai ketika mereka mereguk pelayaran asmara di suite yang mereka sewa. Mereka bergairah menciptakan malam-malam pengantin yang tak mungkin menguap dari tabung ingatan. Setelah pelayaran ke dasar samudra itu, yang ia rasakan hanyalah matanya basah. Basah karena haru bahagia merasuki relung hatinya.
"Kamu bahagia Stefany?"
"Bahagia. Sangat bahagia, sayang.."
"Cepatlah bangun Kevin. Toko-toko cendera mata keburu diburu pembeli. Bukanlah kamu akan mengalungkan manik-manik permata di leherku?"
"Berangkatlah dulu. Nanti aku menyusul. Aku masih ngantuk, dear."
Stefany bergegas meninggalkan kamar hotel setelah meninggalkan kecupan di pipi Kevin. Pagi itu ia akan memulai petualangan baru. Ia sama sekali tak menyangka, hotel itu kemudian dihajar bom. Tubuh Kevin menjelma menjadi bayangan.
Sambil meremas kalung manik-manik permata, Stefany menatap lekat-lekat tubuh suaminya serupa arang dalam kantung plastik. Perempuan bertubuh semampai itu, dengan sepasang mata biru yang digelayuti impian-impian pengantin, tak mampu lagi menangis. Seluruh kepedihannya telah mengkristal menjadi kesunyian.
"Kalian bisa membunuh Kevin, tapi tak akan bisa membunuh kenangan kami, " Stefany membatin dalam deru suara pesawat terbang yang membawa mayat Kevin ke Melbourne. Ia melihat puluhan malaikat menjaga mayat suaminya. Mereka menebarkan senyum kepadanya. Stefany ingin bertanya, kemana kalian pergi pada hari Sabtu, ketika kota dihujani abu, asap kimia, debu radio aktif yang mencabut ratusan nyawa? Kemana kalian? Tapi, kerongkongannya terasa tercekat, pita suaranya terasa terlipat. Stefany hanya memandang malaikat-malaikat dalam pesawat itu, lekat-lekat.
Langganan:
Postingan (Atom)
